Selasa, 03 April 2012

Jangan sombong

     Pagi itu udara cerah. Angin bertiup dengan kencang. Di tanah lapang banyak anak-anak bermain kelereng. Kelereng-kelereng yang bergelinding itu depermainkan anak-anak dengan kemampuan yang berbeda.Terkadang kelereng itu mengenai kelereng yang lainya,terkadang pula hanya melewati saja.Datanglah Nadih. Anak kampung sebelah. Ia sudah sangat mahir sekali sehingga sering kali memenangkan permainan adu kelereng itu. Berkali-kali ia memenangkan pertarungan kelereng dengan mudahnya. Kata anak-anak yang lain, Nadih mengasah kepandaian bermain kelerengnya dengan teman ghaibnya. Ada juga yang bilang, kelerengnya sudah di mantrai dukun.
     Nadih hanya tertawa saja. Karena dia menjagoi arena kelereng itu, sebentar saja ia sudah mendapat sebutan anak kelereng.
     Kalau Nadih datang, anak-anak yang sedang bermain kelereng langsung menghentikan permainannya. Mereka khawatir kelerengnya habis dengan kelerengnya selamet. Namun yang berani tetap bermain seperti biasa. Nadih memang jagoan, lagi-lagi dia menang!
     "Tak akan ada yang bisa  mengalahkan ku, Yud," kata Nadih dengan pongah pada Yuda, sahabatnya yang suka ikut bermain kelereng dengannya.
     "Kau memang jago, Nad," sahut Yuda.
      Yuda senang, sebagai sahabatnya sang jagoan, namanya ikut terkenal. Ia melihat ada seseorang yang siap melayangkan kelereng merah belangnya ke arah kelereng Nadih.
     "Ada lawan, Nad!""
      Nadih mulai bersiaga. Si merah belang di sentil. Hampir saja si Merah Belang mengenainya. Dan giliran si Putih berlaga Nadih bersiap-siap melayangkan si Putih ke arah si Merah Belang. Dengan sekuatn tenaga si Putih meluncur bak peluru yang menembak sasarannya. Dengan sekali tembakan yang jitu dari Nadih si Putih pun berhasil mengenai lawannya. Nadih dan Yuda bersorak gembira.
     "Tak ada yang bisa mengalahkan Nadih!" sorak Nadih sambil tertawa.
      Anak-anak yang lain penasaran dengan kelerengnya Nadih itu, karena  tak ada yang mampu mengalahkannya. Nadih pernah berkata, bahwa dia tidak akan terkalahkan karena kelerengnya itu berasal dari wangsit mimpinya. Di dalam mimpinya itu ia di suruh untuk pergi ke Rawa kampung sebelah. Di sana terdapat sebuah kelereng yang berasal dari pemberian Kyai Joko Bodo. Dan Mimpi itu benar!
      Banyak anak-anak yang iri kepadanya karena keberuntunannya itu. Tak terasa waktu cepat berlalu azan maghrib pun berkumandang, anak-anak itu bubar. Banyak di antara mereka masih membicarakan kehebatan kelerengnya Nadih. Tapi seseorang siantara mereka tidak percaya akan omongan Nadih. Dia adalah Kiki, anak yang baru saja bermukim di daerah sekitar itu. Kiki memang belum bermain kelereng di lapangan itu. Namun sejak ia datang, dia sudah mendengar kehebatan Nadih. Kiki berniat menghentikan kesombongan Nadih. Ia khawatir, Nadih akan celaka oleh bualannya.
      Besok sorenya, Kiki membawa kelerengnya ke tanah lapang. Dia berharap mampu mengalahkan Nadih. Nadih mengejeknya begitu dia datang, "Ki! kelerengmu harus berkenalan dengan kelerengku!"
      Kiki hanya tersenyum. Ada sedikit keraguan, apakah kelerengya mampu mengalahkan kelerengnya Nadih..... Ah, yang penting coba dulu! Keinginan Kiki hanya satu yaitu menghentikan kesombongan Nadih.
      Keduanya pun siap bertarung. Permainanpun di mulai Nadih mendapat giliran pertama. Si Putih pun di lesatkan dan hampir saja mengenai kelereng si Kiki. Berganti giliran bermain, sekarang giliran Kiki yang bersiap untuk mengalah kan Nadih. Di lesatkannya kelerengnya. Dan ternyata tanppa di sadari kelerengnya Kiki mengenai si Putih. 
      Nadih tak percaya dengan mudahnya Kiki mengalahkannya. Tumbanglah sang jagoan. Anak-anak yang tegang melihat pertandingan itu pun menjadi bersorak-sorak mengelu-elukan Kiki.
      Nadih pun jengkel. Dia mengeluarkan kelerengnya yang lain. pergulatan seru terjadi lagi. Kiki berdoa dalam hati. Dan akhirnya game di akhiri oleh Kiki lagi. Begitu lagi sampai tiga kali pertandingan. Nadih mengendus marah. Dia membanting wadah kelerengnya itu. Malu,kesal,marah bercampur menjdai satu. Air matanya menitik. 
      Anak-anak yang tadinya bersorak kini menjadi terdiam. Tegang. Semakin tegang karena Kiki mendekati  Nadih setelah mengambil kelerengnya. 
      "Jangan marah, Dih. Di sini tak ada yang jago, hanya kebetulan saja. Ayo kita main lagi!"
      Nadih terdiam. Ia baru menyadari kalau selama ini dirinya terlalu sombong. Diam-diam dia menyesal telah berlaku demikian. Perlahan dia berdiri dan tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar